Oleh : Sukron Abdilah
24-Feb-2008, 19:29:52 WIB - www.kabarindonesia.
KabarIndonesia - Dengan menggunakan media internet, urang Sunda bisa
menuangkan pikiran atau pengalaman lokal melalui weblog, website,
social networking dan mailing list sehingga ikatan lokal menguat dan
bisa dilihat serta dirasakan (look and feel). Urang sunda yang melek
internet merupakan pengejawantahan dari pribahasa "miindung ka waktu
mibapa ka zaman".
Perangkat komputer desktop atau juga notebook yang terkoneksi ke
internet, hal itu bisa kita jadikan alat penghantar pesan (medium of
the message). Terutama, pesan yang berisi tentang khazanah
kebudayaan Sunda. Andai saja urang Sunda tidak mampu ngigeulan dan
ngigeulkeun perkembangan zaman, jangan sewot kalau etnik Sunda bakal
termasuk kepada ribuan etnis di dunia yang akan segera punah dan
terkubur.
Maka memanfaatkan teknologi informasi yang diboyong arus
globalisasi salah satunya internet dalam menginformasikan soal
kesundaan merupakan satu usaha guna memelihara kelestarian seni dan
budaya di tatar Sunda. Dengan demikian, generasi muda mesti proaktif
melakukan penetrasi budaya global (manca negara) dengan cara meng-
upload konten berupa teks, video, dan photo yang berisi kebudayaan
lokal masyarakat Sunda di website pribadi, mailing list, weblog dan
jaringan sosial (social networking).
Mengeksiskan Sunda
Apalagi eksistensi seni dan budaya di Jawa Barat saat ini kian
terancam. Dari 8 cabang seni berjumlah 257 jenis yang
terdokumentasikan, sekitar 124 masih berkembang, 100 tidak
berkembang, dan 26 jenis kesenian telah punah. Sementara itu, untuk
nilai-nilai tradisional yang terdokumentasikan: 145 macam makanan
tradisional, 25 permainan rakyat, 12 kampung adat, 20 cerita rakyat,
39 upacara adat, dan sebagainya.
Oleh sebab itu, menjadi keniscayaan memanfaatkan perangkat komputer
dan internet agar eksistensi seni dan budaya Sunda khususnya atau
budaya lain di Jawa Barat terpelihara. Maka, kita jangan menjadi
urang Sunda yang posisinya sama dengan katak dalam tempurung. Ia
tidak tahu tentang perkembangan teknologi informasi dan tidak mau
menunjukkan kepada orang lain (dengan mengeksiskan Sunda lewat
website atau blog) bahwa etnis Sunda itu eksis.
Globalisasi khususnya di bidang teknologi informasi tentu saja
mesti dimanfaatkan oleh urang Sunda untuk melakukan penetrasi budaya
luar. Itulah yang diistilahkan para sosiolog penganut konvergensi
dengan glokalisasi. Sebagai respon aktif dari segelintir komunitas
yang masih memegang nilai-nilai lokal yang merasa bahwa
kebudayaannya banyak terpinggirkan oleh kekuatan globalisasi yang
cenderung menyeragamkan.
Terputusnya jaringan informasi tentang kesundaan di era virtual dan
dunia maya (cybernet) akan mengakibatkan generasi muda Sunda
pareumeun obor. Dengan internetisasi, budaya Sunda akan ngajowantara
ke era tanpa sekat, dan ketika orang Sunda atau non-Sunda di luar
negeri mengetik kata entri "Sunda" di search engine (google
umpamanya), uploader dari Sunda telah menyediakan informasi tentang
kekayaan budaya kita.
Tidak seperti sedang mencari naskah langka Sunda di perpustakaan
yang banyak disembunyikan hingga tertutup bagi masyarakat. Hanya
orang tertentu saja yang bisa membaca, menganalisis, dan
mengomentari isi naskah tersebut. Hal ini di era revolusi informasi
seperti sekarang tidak akan terjadi. Sebab, setiap orang dengan
bermodal Rp. 3000 bagi mahasiswa yang suka mengakses internet di
warnet sudah bisa membaca, menganalisis, dan mengomentari
eksistensi budaya Sunda.
Mengakses Kesundaan
Dengan internet, kita bisa menemukan kesatuan antara produksi,
reproduksi, dan penyebaran informasi hilir-mudik antara audience dan
produsen. Bahkan, yang lebih hebat lagi, selain menjadi konsumer, di
internet kita bisa menjadi content provider, dan komentator content,
dengan audience yang telah ada yakni teman yang berada di jaringan
sosial (social networking). Ketika kita menuliskan isi pikiran
tentang kesundaan atau pengalaman hidup urang Sunda serta
dipublikasikan di weblog pribadi kita (blogger.com, wordpress,
multiply, dan lain-lain) misalnya, akan ada komentar-komentar dari
para pembaca. Setelah itu, akan terjadi diskusi, tukar pikiran, atau
sekadar komentar basa-basi.
Globalisasi, ternyata telah dihadapi kaum muda Sunda. Misalnya,
mendirikan situs web seperti www.urang-sunda.
www.kasundaan.
banyak urang Sunda yang mempublikasikan ide-gagasan kesundaan di web
berbayar ataupun gratisan semacam di blogger.com, wordpress,
multiply, dan lain-lain. Bahkan, ada juga kamus elektronik yang
menggunakan bahasa Sunda yaitu su.wikipedia.
Alamat-alamat di atas tersedia berbagai informasi tentang kekayaan
seni dan budaya Sunda, yang bisa dijadikan pelepas "dahaga
kesundaan" oleh para pengguna (user) internet. Website di atas juga
merupakan gerakan glokalisasi urang Sunda sebagai langkah proaktif
atas tekanan globalisasi yang cenderung menyeragamkan budaya dalam
istilah "desa global". Ada semacam gerakan punten memplesetkan
istilah Antony Gidden pokoknya "aku" generasi (Sunda) dalam
mewujudkan "aku" masyarakat pertama Sunda ("me"-first generation)
yang percaya diri akan identitas lokalnya.
Keuntungan bagi masyarakat Sunda "melek internet" adalah akan
menyadari bahwa manusia di Indoensia atau dunia dipenuhi pluralitas
kebudayaan. Sebab, di internet, kita bisa merengkuh seluruh isi
media berupa teks, gambar-gerak, citra audio-visual, dan realitas
virtual dari latar belakang kebudayaan yang berbeda. Tapi, jangan
lantas kehadiran internet mencipta masyarakat Sunda "melek internet"
yang mengamputasi "sense of crisis" ketika berinteraksi dengan
masyarakat.
Tapi, masalahnya mampukah pemerintah memperbaiki infrastruktur
Infromation and Comunication Technology (ICT) sehingga akses
internet bisa dijangkau warga? Nah, sudahkah kaum cerdik cendikia
Sunda memiliki tradisi media literacy karena kemudahan akses
internet? Kalau sudah, tak salah jika mengutip pandangan Thomas L
Friedman seorang kolumnis harian The New York Times: "Terima kasih
pada komputer, terima kasih pada internet" . Wallahua'lam
Blog: http://www.pewarta-
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindone
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
Blog:
http://mediacare.blogspot.com
http://www.mediacare.biz
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar