Bukan Warga Tionghoa Enggan Jadi Polisi
Tidak adanya warga Tionghoa yang jadi Polisi sama sekali bukan karena
mereka enggan untuk jadi polisi tetapi sebaliknya, akibat dari
mayoritas umat Islam yang menolak adanya polisi yang berasal dari
keturunan Tionghoa.
Hal ini bisa kita sama2 saksikan sendiri kenyataan dalam praktek
dilapangan itu sendiri, bahkan baru2 ini seorang suku Batak yang
beragama Kristen juga ditolak oleh pemda di Cirebon sewaktu mau
diangkat jadi kepala polisi hanya karena dia beragama Kristen.
Segala bentuk konflik kehidupan yang terjadi di Indonesia sebenarnya
bersumber hanya dari satu sebab yaitu Islam dan Alqurannya. Hal ini
bisa anda saksikan sendiri dari tragedi dan berbagai kejadian2
pelanggaran nilai2 kemanusiaan yang selama ini terjadi pada
kenyataannya bersumber kepada Islam dan AlQuran ini.
Pembakaran Gereja, pembakaran mesjid Ahmadiah, penjarahan umat
Ahmadiah, pemerkosaan amoy2, hingga pemboman2 yang terjadi diberbagai
wilayah diseluruh Indonesia yang pada kenyataannya tidak pernah
berkurang bahkan bertambah. Yang berkurang itu hanyalah beritanya
karena pemerintah memasung berita yang buruk untuk mencegah effek
buruk diembargo dari luar negeri.
Jangankan orang2 keturunan Tionghoa bisa jadi polisi, bahkan orang2
Indonesia yang aseli sekalipun tidak bisa jadi polisi kalo beragama
Kristen, beragama Buddha, atau tidak beragama. Lebih gila lagi,
bahkan orang2 Indonesia aseli yang beragama Islam sekalipun tidak
gampang2 jadi polisi kalo tidak ada uang sogoknya yang besar disertai
juga ada backing dari pejabat2 yang berpangkat.
Indonesia gelap masa depannya, dan sudah hancur dimasa sekarangnya,
tidak ada setitik harapan pun yang masih tersisa.
Ny. Muslim binti Muskitawati.
--- In mediacare@yahoogrou
>
> Rekan Kwok,
>
> Sebaiknya olok-olok rekan Yap bisa dibatasi dan sedikit lebih
dewasalah.
>
> Kesalahan pemerintah ORBA sebaiknya dijadikan palajaran berharga dan
diskriminasi harus dihapuskan.
>
> Mau kemanapun rekan Yap mencari alasan tetap tak akan berhasil
karena kenyataan dan bukti berbeda dari pandangannya. Mungkin rekan
Yap adalah salah satu yg sangat beruntung sehingga dalam pengurusan
surat-surat tak perlu ngantri, pejabat datang menemuinya. Tapi hal ini
tidak patut untuk dijadikan penilaian. Ini adalah bukti dari sebuah
keboborkan moral yang melecehkan.
>
> Kalau kita bicara mengenai suku bangsa, ras maka tak ada habisnya
karena ini adalah sifat manusia ada yg positif ada yg negative. Cukup
banyak warga keturunan yg memiliki rasa nasionalisme serta tanggung
jawab yg melebihi penduduk asli. kekuatan-kekuatan seperti ini harus
bisa kita satukan.
>
> Kalau mau bicara kontribusi juga akan panjang. Kalau memang warga
keturunan lebih bisa berkarya dibidang ekonomi mengapa tidak?
Pemaksaan dan pengotakan akan membatasi kreatifitas.
>
> Warga keturunan yang seperti anda cukup banyak jumlahnya yang
walaupun ditimpa kekecewaan masih tetap ssaja tdk menyerah untuk
membantu warga lainnya. Inilah suatu bukti bahwa kita sesama WNI harus
nya memiliki hak dan kewajiban yang sama.
>
>
>
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Herman Kwok
> To: mediacare@yahoogrou
> Sent: Thursday, February 21, 2008 11:57 PM
> Subject: [mediacare] [SP] Warga Tionghoa Enggan Jadi Polisi
>
>
>
> Re: [SP] Warga Tionghoa Enggan Jadi Polisi
>
> Mas Yap,
>
> Biasanya saya malas menanggapi tulisan seperti ini, tapi jika
terlalu tendensius tentunya akan memperburuk stigma negatif yang sudah
ada.
>
>
>
> Mengenai minat keturunan Cina untuk menjadi polisi, bisa digambarkan:
>
> Setelah 30 tahun digiring ke bidang ekonomi tentunya tidak mudah
beralih ke bidang lain. Kami tidak punya ayah, ibu, paman, om atau
relasi lain yang menjadi polisi dan dapat dijadikan panutan untuk
berdiskusi. Apalagi ditambah dengan beberapa issue negatif dan
persepsi di kepolisian yang relatif kurang baik, tentu membuat profesi
ini belum menjadi pilihan.
>
>
>
> Dan jika yang dimaksud adalah kontribusi warga keturunan Cina,
dengan terpaksa saya mengkonfirmasi bahwa:
>
> Saya kenal beberapa motivator dan inspirator yang secara berkala
memberikan tenaga dan waktu cuma-cuma untuk masyarakat tanpa
membedakan ras atau agamanya. Ada rekan saya yang memberikan tenaga
dan pikirannya di salah satu kementerian, dan ada juga ahli geologi
yang menyumbangkan keahliannya secara sukarela. Tanpa bermaksud pamer
atau sok sosial, saya sendiri sedang merintis suatu pelatihan mengenai
pemasaran (tanpa biaya) untuk para pengusaha kecil. Pernah aktif
membantu organisasi nirlaba untuk warga yang kurang beruntung (yang
bukan warga keturunan Cina). Secara pribadi saya terdaftar sebagai
donor mata dari tahun 1994 (jika meninggal, kurang dari 4 jam mata
saya akan disumbangkan ke siapa saja yang membutuhkan) dan saya juga
menjadi orang tua asuh. Beberapa anggota keluarga kami terdaftar
sebagai pendonor darah. Masih banyak lagi yang tidak mungkin jika
diceritakan di sini.
>
>
>
> Tidak semua orang berbakat dan harus menjadi polisi, TNI dsb.
Kontribusi adalah suatu hal yang pribadi dan tidak dapat dipaksakan,
tergantung dari wawasan, kesadaran dan kapasitas masing-masing
individu. Tentunya tidak bijak untuk menyebar-luaskan kontribusi yang
dilakukan secara pribadi. Sayangnya masyarakat lebih sering mendengar
hal-hal negatif yang memunculkan dikotomi rasial. Dan sialnya lagi
banyak pejabat yang mempolitisir masalah ini untuk kepentingan
tertentu. Tentu, kami akui di pihak kami selalu ada pihak-pihak yang
berlaku tidak terpuji dan silahkan saja diproses sesuai aturan yang
berlaku.
>
>
>
> O ya, mengenai ancaman kerusuhan etnis, saya percaya bahwa nasib
saya tidak bergantung di tangan perusuh. J
>
>
>
> Salam,
>
> Herman Kwok
>
>
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Yap Hong Gie
> To: Post Mediacare
> Sent: Wednesday, February 20, 2008 4:59 AM
> Subject: [mediacare] [SP] Warga Tionghoa Enggan Jadi Polisi=> Henny
>
> Artikel "Warga Tionghoa Enggan Jadi Polisi" di harian Suara
Pembaharuan
> mengingatkan pada diskusi saya dengan Mbak Henny, dua minggu lalu.
>
> (Kutipan #68465):
> Nih, ada lagi lagu klasik yang selalu didengung-dengungka n terus
menerus.
> Jaman Orba etnis Cina di diskriminasi untuk masuk Pegawai Negeri
dan TNI.
> Naaaah, sudah 10 tahun masa "keemasan" untuk meng-claim hutang-hutang
> masalah lalu.
> Sekarang saya tanya, mana pemuda-pemudi etnis Tionghoa yang jadi
PN dan
> TNI ????
> Ini saya, sesama etnis yang bertanya, pada saatnya nanti
masyarakat pribumi
> yang akan datang menagih!
> Tuntut saya terus hutang-hutang masa lalu, nanti giliran Anda yang
ditagih,
> baru nyaho! ------------
>
> Kalau elit Tionghoa dan kawan-kawan Mbak Henny masih tidak mau
mawas diri,
> petantang-petenteng nuntut HAK melulu, tapi lupa menjalankan
KEWAJIBAN
> sebagai WN, jangan menyesali diri kalau sejarah kerusuhan etnis
berulang
> kembali.
>
> Wassalam, yhg.
> ------------ ------
>
> http://www.suarapem baruan.com/ News/2008/ 02/19/index. html
>
> SUARA PEMBARUAN DAILY
> Warga Tionghoa Enggan Jadi Polisi
>
> [JAKARTA] Minat warga Tionghoa Jakarta dan sekitarnya untuk
menjadi polisi
> sangat kecil dibandingkan provinsi-provinsi lainnya di Tanah Air.
Sampai
> saat
> ini, hanya segelintir warga Tionghoa yang menjadi polisi di
jajaran Polda
> Metro
> Jaya.
> "Padahal pendaftaran masuk kepolisian jelas yakni untuk semua
golongan atau
> suku
> mana saja, yang penting memenuhi syarat," kata Kepala Bidang
(Kabid) Humas
> Polda
> Metro Jaya, Kombes Pol Ketut Untung Yoga kepada SP, di Mapolda
Metro Jaya,
> Selasa (19/2).
> Menurut Ketut, perekrutan anggota Polri tingkat Secaba (Sekolah Calon
> Bintara)
> wilayah Jakarta dan sekitarnya dari tahun ke tahun meningkat dalam
kualitas
> dan
> kuantitas. Untuk 2008, targetnya 580 orang dengan perincian untuk
polisi
> laki
> 549 orang, polisi wanita 25 orang, dan 6 calon anggota intelijen
khusus.
> [G-5]
>
> Last modified: 19/2/08
>
>
>
>
> Back to top
> Reply to sender | Reply to group | Reply via web post
> Messages in this
>
>
>
>
------------
> Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo!
Search.
>
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
Blog:
http://mediacare.blogspot.com
http://www.mediacare.biz
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar