SEMARANG - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan harapan yang sejuk bagi kebebasan pers. Saat berbicara di hadapan para wartawan yang sedang memperingati Hari Pers Nasional (HPN) di Semarang kemarin, presiden menegaskan bahwa saat ini bukan lagi zamannya: pers dikontrol pemerintah, diberedel, atau ditangkap tanpa proses pengadilan.
"Pemberedelan media massa sudah tidak boleh terjadi lagi di negeri ini," tegasnya.
Dalam acara yang berlangsung di Ghradika Bhakti Pradja, Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah itu, SBY mengungkapkan pandangannya tentang eksistensi pers. "Kalau disuruh memilih, pers yang bebas atau pers yang dikontrol atau dipasung, tentu saya memilih pers yang bebas," ujarnya.
Dalam zaman kebebasan pers seperti ini, SBY meminta insan pers bisa mengembangkan sensor diri. Pers diharapkan bisa memilah-milah sendiri berita yang patut disampaikan ke masyarakat dan yang tidak layak disiarkan. Sensor terhadap pemberitaan akan lebih tepat jika dilakukan insan pers sendiri, bukan pihak luar, termasuk pemerintah.
"Itu lebih tepat, lebih cespleng kalau dilakukan insan pers sendiri. Sebab, kalau orang lain yang mengoreksi, belum tentu tepat," lanjutnya.
Presiden juga mengharapkan pers terus menjaga idealismenya dalam membangun bangsa dan negara. Dan itu tidak boleh luntur hanya karena persaingan bisnis serta kepentingan partisan. Masyarakat, menurut SBY, ingin mendapatkan informasi atau berita yang benar, tepat, dan objektif, namun juga berkualitas dan berimbang serta dapat membawa kebaikan kepada masyarakat. Dengan menjunjung tinggi idealisme dan etika jurnalistik, SBY berharap bisnis media akan semakin tangguh dan berkembang.
"Saya titip, perhatikan kesejahteraan para karyawan. Karyawan yang bertugas di perusahaan media massa, mereka pahlawan di belakang layar," ujarnya.
Presiden SBY dalam kesempatan itu juga menegaskan bahwa pemerintah yang dipimpinnya tidak alergi terhadap kritik. Kritik, menurut dia, ibarat obat bagi orang sakit. Namun, kritik harus diberikan dalam dosis yang tepat agar segera sembuh dari sakit.
"Kalau obatnya salah, dosisnya yang seharusnya 3 kali sehari, (diberi) 12 kali sehari, (malah) kolaps," tuturnya.
Pada kesempatan itu, kepala negara juga memuji langkah nyata kalangan pers yang melakukan program wartawan menanam. Kegiatan menanam pohon yang dilakukan wartawan di Telaga Menjer, Kabupaten Wonosobo, 27 Januari 2008 yang lalu, dinilai sebagai gerakan yang baik bagi lingkungan dan perlu disukseskan. "Mari mulai sekarang, tidak perlu melihat ke belakang. Kita pelihara bumi kita, tanah air kita, Indonesia kita. Contoh yang konkret gerakan wartawan menanam," tutur presiden.
SBY dan Ibu Ani Yudhoyono juga menyempatkan diri menuju Lapangan GOR Tri Lomba Juang Semarang. Di tempat itu, presiden mencanangkan Gerakan Gemar Membaca yang ditandai dengan gerakan membaca masal sekitar 10.000 siswa SMP, SMA, dan SMK di Semarang.
Semalam, rangkaian puncak HPN ditutup dengan pementasan wayang kulit dengan dalang Ki Enthus Susmono yang membawakan lakon Pandawa Pitu. Dalam kesempatan tersebut, PWI juga menyerahkan anugerah Life Time Award kepada lima tokoh pers nasional yang mengabdikan seluruh hidupnya di bidang pers. Kelima tokoh itu adalah Jacob Oetama, Jafar M. Assegaf, Sabam Siagian, almarhum Atang Ruswita, dan almarhum R H Siregar. Penghargaan serupa tahun lalu diberikan PWI kepada wartawan senior Rosihan Anwar dan B.M. Diah
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
Blog:
http://mediacare.blogspot.com
http://www.mediacare.biz
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar