He he he. Osi. Yang penting ngeliat gambarnya mesti saksama dan cermat. Bisa-bisa orang gondrong yang diapit banyak orang di kiri kanannya itu Eurico Gutteres, pimpinan milisi di Timtim dulu.
Bisa saja sih per individual orang Kristen atau Katolik punya asosiasi tertentu yang cukup dekat di hati dengan sejumlah ikon dan gambar. Ini bisa dimaklumi sebagai suatu pengalaman personal. Yang jelas, Alkitab maupun Gereja tidak mewajibkan kita sejauh itu. Dulu di masa Perjanjian Lama belum diperbarui, bahkan ada larangan untuk membuat tiruan Tuhan berupa arca atau gambar. Tak hanya tiruan Tuhan malah. Kalau Osi baca hukum pertama yang diturunkan kepada Musa, semua mahkluk hidup yang ada di darat, laut dan udara semuanya dilarang untuk digambar atau diukirkan.
Kalau saya tak salah nih, pelukisan ilahi baru diperkenankan Gereja Katolik setelah Renaissance. Saat itulah bakat-bakat menakjubkan seperti Michael Angelo bermunculan. Idemu untuk melukiskan kedekatan yang lebih intim antara Yesus dan murid-muridnya boleh juga. Mungkin, bentuk mejanya mesti diganti bundar, dan bukan persegi panjang seperti yang standar dalam banyak lukisan saat ini. Kaya meja bundar yang banyak di restoran Cina itu lho.
manneke
-----Original Message-----
> Date: Thu Feb 07 20:56:57 PST 2008
> From: "dwi osi" <dwi_osi@yahoo.
> Subject: Re: [mediacare] Re: TEMPO lagi...TEMPO lagi... COVER TEMPO yang tendensius
> To: mediacare@yahoogrou
>
> :-) makasih Pak.
>
> Sejak jaman rajin sekolah minggu, yang tertanam dalam benak saya, kalau ada gambar atau lukisan meja panjang dengan para pria gondrong dengan satu Orang ditengah di apit 6 orang dikiri 6 orang dikanan, mesti langsung asosiasinya, ini gambar Yesus dengan 12 muridnya. Sampai sekarang ini baru tersadarkan bahwa itu hanya ilustrasi buatan seniman.
> Bukan benda suci... ataupun sesuatu yang suci.
>
> Begitu juga, kalau ada gambar bapak bapak berambut panjang mengetuk pintu, atau menggendong seekor domba, langsung asosiasinya Yesus Kristus. Jadi buat saya udah terlanjur itu jadi kayak simbol2 agama juga....
>
> Untung aja ada kejadian Tempo majang gambar mirip The Last Supper tsb, jadi akan banyak orang tersadarkan seperti saya, bahwa gambar2 yg keburu jadi semacam ikon tsb, sesungguhnya adalah hanya sebuah karya seni yang boleh saja mau dikeramatkan, tetapi, boleh juga dianggap hanya sebagai sebuah karya seni. jadi nggak perlu emosi....
>
> Ngomong2, kalau saya mau buat ilustrasi Perjamuan Malam terakhir, saya akan menggambarkan kemesraan para murid dengan gurunya. Bukan menghadap ke satu arah saja, melainkan saling bertatap muka antara para murid dan guru tercinta.
>
> Peace,
> Osi
>
> ----- Original Message ----
> From: Manneke Budiman <manneke@interchange
> To: mediacare@yahoogrou
> Sent: Wednesday, February 6, 2008 12:32:41 AM
> Subject: [mediacare] Re: TEMPO lagi...TEMPO lagi... COVER TEMPO yang tendensius
>
>
> He he he, Osi, gak perlu emosi. Mungkin kita bisa usul pada Museum di Louvre sana untuk menggantung cover majalah Tempo ini di samping lukisan da Vinci tentang The Last Supper.
>
> Takutnya, jangan-jangan nantinya yang versi Tempo lebih populer dari versi asli da Vinci. Hi hi hi...
>
> manneke
>
> -----Original Message-----
>
> > Date: Tue Feb 05 00:47:52 PST 2008
> > From: "dwi osi" <dwi_osi@yahoo. com>
> > Subject: Re: [mediacare] TEMPO lagi...TEMPO lagi... COVER TEMPO yang tendensius
> > To: mediacare@yahoogrou ps.com
> >
> > Persaingan bisnis makin ketat...
> > Saya sebagai orang kresten, melihat itu salah satu trik Tempo supaya laku.. :-)
> > Motif komersil.
> >
> > Jujur aja, emosi saya sedikit terganggu membayangkan cover tsb, tapi Tuhan ku & para rasulNya tak perlu dibela.
> > Jadi, tidak perlu membakar bendera Tempo atau melempari kantor Tempo.
> >
> >
> > Peace,
> > Osi
> >
> > ----- Original Message ----
> > From: kresna dutha <kresna_dutha@ yahoo.com>
> > To: mediacare@yahoogrou ps.com
> > Sent: Monday, February 4, 2008 6:20:04 PM
> > Subject: [mediacare] TEMPO lagi...TEMPO lagi... COVER TEMPO yang tendensius
> >
> > Majalah TEMPO edisi 4 - 10 Februari yang berjudul "SETELAH DIA PERGI" membuat kejutan dengan menampilkan cover "PESTA PERJAMUAN TERAKHIR " (Yesus dan para muridnya) sebagai PESTA PERPISAHAN SOEHARTO dengan Anak-anaknya.
> >
> > Apakah Tempo memang tendensius, sengaja atau tidak sensitif dengan situasi seperti ini ? Apa maksud TEMPO dengan memuat tiruan tersebut ? Apakah mau menyamakan orang Kristiani seperti Keluarga Soeharto (atau sebaliknya), ataukah mau meniru sepak terjang Dawn Brown dalam Da Vinci Code? Ataukah ini ada maksud-maksud tersembunyi ?
> >
> > Dari segi kreatifitas TEMPO patut diacungin jempol... tetapi apakah ini tidak menyinggung perasaan mereka yang beragama Kristiani ? Ataukah memang TEMPO tidak memiliki sensitivitas dan asal merasa orang lain tidak perlu dimengerti ? Ataukah ini merupakan ciri jurnalisme investigatif yang selama ini menjadi kebangaan?
> >
> > Yang Prihatin
> > -Kresna Dutha-
> >
> >
> >
> > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> > Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
> > http://www.yahoo. com/r/hs
>
>
>
>
>
> ____________
> Looking for last minute shopping deals?
> Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
Blog:
http://mediacare.blogspot.com
http://www.mediacare.biz
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar